• Prof. Dr. H. Miftah Faridl

     

     

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

     الله اكبر الله اكبر الله اكبر لا اله الا الله  الله اكبر و لله الحمد

     الله اكبر كبيرا والحمد الله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا لا اله الا الله وحده صدق وعده ونصر عبده واعز جنده وهزم الاحزاب  وحده  لا اله  الا الله الله اكبر الله اكبر ولله الحمد.

     الحمد لله الذي جعل هذا اليوم عيدا للمسلمين و رحمة للمؤمنين  نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيأت اعمالنا من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادى له  اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله و الصلاة و السلام على اشرف الانبياء و المرسلين صادق الوعد الامين و على اله و صحبه و من تبعه الى يوم الدين

    (امابعد)

     

    معاشر المسلمين اوصيكم و نفسي بتقوى الله  كما قال الله تعالى  فى كتابه الكريم اعوذ بالله من الشيطان الرجيم  بسم الله الرحمن الرحيم  اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون :  فتزودوا فان خير الزاد التقوى و قال ايضا  ان اكرمكم عند الله اتقاكم  الله اكبر الله اكبر الله اكبر  لا اله الا الله  الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

     

    Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillaahilhamd

    Sejak kemarin, jutaan umat manusia bertakbir membesarkan Allah Yang Maha Rahman. Dan pagi ini, kita genapkan Takbir itu dalam hamparan sajadah kesucian, sambil bersimpuh menyambut tibanya iedul fitri sebagai ungkapan rasa syukur atas segala karunia-Nya yang telah Allah limpahkan kepada kita. Dalam kepasrahan yang tulus, kita hadapkan keseluruhan eksistensi diri kita ke hadapan Allah yang maha Luhur, untuk menyerahkan hasil perjalanan amal dan ikhtiar selama bulan Ramadhan yang baru saja kita lewati. Rasulullah SAW yang diikuti para shahabatnya menangis ketika Ramadhan itu berakhir meninggalkan kehidupan. Rasulullah SAW mempersonifikasi Ramadhan sebagai kekuatan jiwa yang dapat memperkaya spiritualitas, sekaligus membuka pintu kesempatan untuk merakit kebahagiaan.

     

    Selama satu bulan penuh kita lalui dalam suasana puasa. Selama itu pula kita mencoba menjadi hamba seutuhnya, menjadi hamba-Nya secara kāfah, mengabdikan segenap potensi kemanusiaan yang dimiliki, untuk mewujudkan rasa iman atas ajaran yang Allah wajibkan. Dan pada saat itu pula, kita berusaha menjadi individu yang dapat saling memahami dengan sesama untuk mewujudkan rasa solidaritas dalam semangat Ukhuwah Islamiyah. Sebab meski puasa merupakan salah satu ajaran Islam yang fundamental, namun pesan, spirit dan nilainya sesungguhnya bersifat universal, dan bisa diapresiasi oleh pemeluk agama dan masyarakat manapun, dalam kesamaan ataupun kebhinekaan.

     

    Sambil merakit sebuah kewajiban, Ramadhan tahun ini juga sekaligus kita belajar memperkaya diri, memperkaya dengan kebesaran jiwa, untuk sanggup belajar berbeda, atau sekurang-kurangnya belajar lebih cerdas untuk tidak sama. Tidak sama cita-cita, tidak sama kebiasaan, dan tidak sama pilihan, termsuk pilihan-pilihan yang kerap mengundang sensitifitas manusiawi, seperti pilihan calon pemimpin. Tak perlu menjadi sengketa. Allah pun bukan tanpa disengaja menciptakan segalanya berbeda. Ada siang, ada malam; Ada laki-laki, ada perempuan; Ada hitam ada putih; dan jutaan atau bahkan milyaran perbedaan lainnya ada di sekitar kita. Jadi kita tak perlu bimbang, tak perlu marah, apalagi marah hanya karena berbeda. Biarlah, perbedaan itu sudah berjalan sesuai sunnatullah.

     

    Memilih pemimpin terbaik sesuai dengan apa yang baik menurut kita adalah kewajiban kita. Kita wajib memiliki pemimpin. Kehadirannya tak bisa diabaikan. Kita tak bisa tak punya pemimpin. Bahkan Nabi sendiri mengisyaratkan, jika berkumpul atau bepergian bertiga, hendaknya satu di antaranya diangkat untuk memimpin yang lainnya. Tapi kalau pada praktiknya apa yang baik menurut kita ternyata berbeda dengan apa yang dipandang baik menurut yang lain, tak perlu saling memaksakan diri, saling memaksakan kehendak. Berjalanlah sesuai pilihan jalur masing-masing. Insya Allah mudah-mudahan semuanya bermaksud baik. Dan kebaikan itu adalah kebaikan untuk semua.

     

    Inilah di antara spirit Ramadhan, yang salah satunya agar umat manusia bisa sama dalam perbedaan, berbeda dalam kesamaan. Jangan pernah terjadi, perbedaan merusak tatanan kebersamaan yang sudah sejak lahir kita tata bersama. Bangunan ukhuwah ini tidak boleh ternoda sedikit pun. Kenikmatan kebersamaan ini jangan pernah terganggu oleh bintik apapun. Allah dan Rasul-Nya mengutuk perpecahan yang seringkali diakibatkan oleh hal-hal sepele, dan tidak memberikan dampak kebaikan yang lebih besar.

    Tentang kepemimpinan, Islam memberikan tuntunan kepada kita, bahwa pemimpin yang baik itu pemimpin yang istiqomah melaksanakan amanah, pemimpin istiqomah melaksanakan perintah-perintah Allah, menjauhi apa-apa yang dilarang oleh Allah, mengikuti Sunnah Rasulullah, yang mencintai ummat dan dicintai oleh ummat, yang memiliki kemampuan untuk memajukan memsejahterakan umat lahir dan bathin.

    Hadirin jamaah ied yang berbahagia,

     

    Pilihan-pilihan itu diperlukan dalam bingkai kriteria tersebut, bukan untuk disengketakan. Pilihan-pilihan itu kita butuhkan, agar ke depan dapat mensejahterakan, bukan menyusahkan mencerdaskan bukan membodohkan. Dan dalam perjalanannya, kita hanya memiliki kapasitas ikhtiar untuk memilih siapa yang terbaik menurut kita, sementara kepastian siapa yang paling layak mendudukinya hanya ada dalam ruang Kehendak Allah. Al Qur’an Surah Ali Imran ayat 26 dengan tegas mengisyaratkan: Katakanlah, “Wahai Tuhan yang mempunyai kuasa, Engkau berikan kuasa kepada yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kuasa dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

     

    Pada momentum Iedul Fitri inilah pada akhirnya kita dapat melakukan evaluasi diri, mawas diri, untuk mengukur kualitas diri dalam keseluruhan amal yang kita lakukan, khususnya dalam melewati hari-hari Ramadhan yang penuh hikmah. Sanggupkah kita menghindari sengketa? Sanggupkah kita memberikan kebaikan untuk orang lain? Sudahkah kita membagi kasih sayang dengan sesama? Dan bersamaan dengan itu pula, saat ini dan di sini, kita tengah menghadapi perjalanan mewujudkan ruang kehidupan kita yang lebih baik, kehidupan yang lebih berkeadaban, tatanan kehidupan yang sejatinya menjelma dalam tatanan sosial politik baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

     

    Saat ini kita tengah berikhtiar bersama, memohon kepada Allah SWT agar memberikan yang terbaik bagi kita, bagi masyarakat kita, bagi tatanan kota kita bersama. Jika kota yang kita huni saat ini memang punya sejarah, maka marilah kita merawatnya dengan penuh cinta kasih. Sejarah itu indah. Bukan saja sejarah perjalanan kemanusiaan, tapi juga sejarah yang menggariskan seribu kenangan dengan kebaikan yang sulit dilupakan, dengan moralitas para penghuninya yang membanggakan, mutu intelektualitas yang banyak menginspirasi, serta suasana alam yang penuh spirit surgawi. Sebuah anugerah Allah SWT yang tak terhitung nilainya, sebagai amanah yang harus kita rawat bersama, agar tidak berbalik menjadi bencana alam ataupun derita kemanusiaan.

     

    Itulah sebabnya, agar ikhtiar ini tidak terjebak dalam lubang kemubadziran, pada hari yang fitri ini, ada baiknya kita renungkan sebuah teladan yang pernah dilalui Nabi beserta para shahabatnya. Nabi berhasil menata kota, sukses membangun desa. Masyarakat Muslim pertama yang dibangun oleh Nabi adalah sebuah komunitas unggulan, komunitas yang sarat dengan teladan kebajikan, yang kalau terus kita teladani, Insya Allah masih relevan untuk kondisi saat ini dan juga di sini. Tatanan masyarakat itu adalah sebuah prototype ideal sesuai dengan zaman dan potensi yang dimilikinya.

     

    Hadirin jamaah ied yang berbahagia,

    Kepemimpinan pada hakikatnya adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan, bukan hadiah yang dapat dinikmati sekehandak hati. Kepemimpinan bukan fasilitas memperkaya diri, tapi lahan beribadah untuk sebuah pengabdian. Karena itu berbuatlah secara wajar, berusaha tanpa beban untuk menuju kursi yang dicari, karena satu saat kursi itu akan diambil kembali, atau diperebutkan sesuai ketentuan. Jika kita terikat keberpihakan pada salah satunya, maka gantungkanlah keberpihakan itu secara wajar pula. Tidak berusaha secara berlebihan yang dapat melupakan posisi kita yang sesungguhnya. Di mata ajaran agama, apapun yang sifatnya berlebihan tidak akan berakibat baik untuk kehidupan. Cairkan semua beban keberpihakan itu, agar keterikatan dengan pihak-pihak yang lainnya pun akan tetap terpelihara baik. Ketidak hati-hatian inilah, saya kira, yang dapat merusak persaudaraan, malah akan menambah permusuhan.

     

    Hadirin jamaah yang berbahagia,

     

    Perlu juga disadari, bahwa menjadi orang terpilih di kancah politik saat ini diakui bukanlah sesuatu yang gampang. Ia butuh kemasan yang menarik, perlu modal yang tidak kecil, butuh kecerdasan yang tidak sederhana. Tapi yang jangan dilupakan juga bahwa siapapun yang terlibat, dan jadi apapun keterlibatannya itu, semuanya perlu ketulusan yang prima, butuh keikhlasan yang sempurna, agar apapun hasilnya, ia tetap tawakkal, tanpa harus menyalahkan pihak-pihak yang belum tentu ikut bertanggung jawab sejak awal. Sehingga, jika kepemimpinan ini dapat dijalankan secara benar dan proporsional, ia akan menjadi kendaraan pembawa missi suci sebagai bekal beribadah kepada Yang Maha Kuasa.

     

    Dalam mewujudkan missi suci yang diembannya inilah, di atas semangat profetik seperti dicontohkan Rasulullah, para pemimpin yang menjadi pilihan umat sejatinya memulai menata kehidupan dengan berpedoman pada ajaran. Demikianlah Rasulullah SAW, memulai kebiasaan shalat berjamaah beliau pun mendidik umat, membiasakan hidup bermasyarakat yang Islami, masyarakat yang berperadaban yang berkemajuan. Dalam shalat berjamaah, umat Islam dididik untuk memiliki budaya yang cerdas, terhormat dan bertanggungjawab yang berkaitan dengan prinsip-prinsip etika bermasyarakat, mewujudkan dengan tulus kepatuhan kepada pimpinan, mereka juga menyadari sepenuhnya etika mengoreksi pimpinan dan bahkan bagaimana mengganti pimpinan.

     

    Inilah di antara isu penting dan sensitif yang seringkali membingkai kuat kehidupan politik masyarakat kita, yang apabila terlepas dari nilai-nilai moral agama, semuanya tidak menutup kemungkinan malah dapat mendorong tindakan-tindakan destruktif, tindak kekerasan, pelecehan satu sama lain, saling tidak menghargai, dan pada akhirnya terjebak pada iklim disintegrasi. Bukankah tatanan disintegratif itu merupakan kondisi yang sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya? Na’uzubillāhi min dzālik.

     

    Karena itu, terlepas dari sisi-sisi adanya kesenjangan sejarah, bias kultural, ataupun jarak ideologis lainnya, antara kita dengan Nabi dan para shahabatnya, usaha-usaha Rasulullah dalam membangun kota bermartabat yang dibingkai dalam spirit wahyu, yang hingga kini tetap menjadi magnet umat manusia seluruh dunia, saya kira masih tetap relavan untuk diteladani jika kita ingin membangun sekaligus memiliki rumah berkah yang disebut kota. Sudah lama kota ini kita mimpikan menjadi kota agamis. Dan sudah lama pula kita mimpikan lahirnya pemimpin-pemimpin yang lebih berpihak pada kepentingan agama. Karena itu dengan spirit Ramadhan yang baru saja kita lalui ini, marilah kita perkuat kebersamaan untuk mewujudkan mekanisme taushiyah yang menyehatkan, saling koreksi yang menggembirakan, bukan saling hujat yang hanya akan memecah belah kehidupan.

     

    Jamaah Ied yang berbahagia,

     

    Sepanjang Ramadhan kita bergelut dengan rupa-rupa ujian. Di berbagai kesempatan kita teruji, meski mungkin pada kesempatan yang berbeda kita lemah dan kalah. Di berbagai tempat kita saksikan gempita meramaikan suasana. Masjid-masjid dipadati beragam kegiatan, mulai dari fenomena ta’jil bersama, siraman-siraman ruhani yang menyejukkan, hingga qiyamullail bersama. Berbagai lapisan usia masyarakat tumpah meramaikan masjid-masjid, melambangkan bangunan kebersamaan yang menakjubkan. Tapi kenapa kebersamaan itu tidak terus kita rawat utuh hingga waktu jauh meninggalkan Ramadhan?

     

    Inilah pertanyaan sekaligus agenda mendesak umat kita saat ini, mempertahankan kebersamaan untuk banyak tujuan. Melalui kebersamaan kita dapat menyelesaikan kemiskinan. Melalui kebersamaan kita dapat menyelesaikan kebodohan. Melalui kebersamaan pula kita akan sanggup menggapai tujuan politik yang oleh sebagian orang mungkin masih diangap kotor; Padahal tidak. Politik mustinya tidak bertujuan kotor. Politik hanyalah sebagai alat untuk menuju tujuan-tujuan mulia dan terhormat. Tapi tujuan politik itu akan sulit dan sangat sulit kita tempuh jika kenyataan umat masih bercerai-berai. Lalu apa usaha yang sebaiknya kita lakukan saat ini?

     

    Kita butuh persatuan. Kita butuh kebersamaan. Kita perlu memperkuat solidaritas. Sehingga andai saja kebersamaan yang kita jalin selama Ramadhan itu terus mewujud hingga kamar-kamar Tempat Pemungutan Suara, saya yakin, akan kuatlah ikatan kebersamaan fisik dan politik umat ini. Dan kebersamaan itu pula yang akan disegani orang, bahkan mungkin akan ditakuti musuh-musuh Allah yang hanya akan merongrong keutuhan umat dan bangsa pada umumnya. Karena itu kita tidak boleh mudah terpengaruh godaan-godaan pragmatis yang hanya akan memberikan kenikmatan sesaat. Di sinilah kita butuh seorang pemimpin yang akan sanggup mempersatukan umat, bukan pemimpn yang hanya akan memecah belah umat.

     

    Fondasi utamanya hanya satu. Ia adalah taqwa. Alqur’an dengan tegas menyebut hal itu. “Seandainya penduduk suatu negeri, masyarakat suatu wilayah, warga suatu kota bertaqwa, maka pasti Allah akan menurunkan keberkahan yang luar biasa”. Jadi tidak bisa kita mengukur kebahagiaan warga suatu tempat hanya dengan ukuran-ukuran fisik-material, sementara dimensi mental spiritualnya masih kita abaikan. Kebahagiaan itu harus komprehensif. Alqur’an berpesan, raihlah kebahagiaan ganda, bahagia di dunia bahagia di akhirat.

     

    Untuk itu adalah pada tempatnya jika kita kembali mempertimbangkan langkah-langkah penting yang pernah dilakukan Rasulullah SAW dengan para shahabatnya. Langkah-langkah itu merupakan teladan penting bagi kita, sebab langkah-langkah itu telah terbukti dalam sejarah merupakan usaha Baginda Rasulullah untuk membangun semangat dan budaya ukhuwah. Mempererat kohesifitas umat, untuk membuktikan bahwa kita memang bisa bersatu, bahwa kita memang mengutuk percerai-beraian. Lalu apa alat perekat utama yang telah membantu memperkuat missi Rasulullah? Apa yang telah ikut memperkuat Nabi sanggup mendobrak benteng pertahanan musuh, sanggup unggul mengalahkan kekuatan politik lawan?

     

    Hal penting yang menjadi prinsip terdepan Nabi SAW adalah berpegang pada prinsip ukhuwah. Ukhuwah adalah salah satu potret penting dari masyarakat Madinah saat itu. Tidak ada diskriminasi, atas nama apapun. Tidak ada kompetisi yang tidak sehat, kecuali dalam bingkai Fastabiqul Khairat. Tidak ada tekan-menekan antara yang superior atas yang imperior. Semua hidup sejajar, setara atas nama kemanusiaan. Sejarah memperlihatkan dengan jelas warna pluralisme Madinah. Tapi Nabi tetap sanggup merawatnya dalam spirit ajaran yang santun. Allah menciptakan pria wanita, suku bangsa bukan karena kemulyaan dan keunggulan golongannya, tapi lebih didasarkan pada pertimbangan ketaqwaannya. (Q.S. Al Hujurat: 13).

     

    Kekerasan hanyalah bumbu kehidupan yang sangat dihindari. Nabi memberikan teladan yang jelas bagaimana memperlakukan orang-orang di atas keadilan dan ketulusan. Dan jika hari ini kita saksikan berbagai peristiwa kekerasan atas nama agama, Nabi sama sekali tidak pernah memberikan contoh seperti itu. Sebagai benteng pertahanan prinsip tatanan ummatan wasatha, umat Islam selayaknya memperlihatkan keteladanan yang santun, menebar kasih sayang yang tulus, memupuk kepedulian semesta yang lebih merata,  jauh dari kesan-kesan yang menakutkan. Kalaupun terpaksa harus berbeda pendapat, terpaksa harus berbeda pilihan, maka semua perbedaan itu harus menjadi pemantik keberkahan fastabiqul khoirot agar dapat menjadi rahmat yang menguntungkan.

     

    Perbedaan pendapat harus menjadi rahmat untuk tumbuhnya semangat kritis dan semangat kompetitif. Umat kita ini masih harus dididik cerdas. Tapi kecerdasannya akan luntur lantaran tidak adanya kesiapan berbeda pendapat. Padahal semua orang mu’min adalah bersaudara. Diantara orang mu’min harus dibudayakan ishlah, tabayyun, tidak boleh terjadi sikap memperolok-olokan (taskhiriah), melecehkan, menghina, memanggil orang lain dengan panggilan yang menyakitkan, buruk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus); membuka aib orang lain (ghibah). -Al Hujurat, 8-13-.Orang muslim itu ialah apabila orang lain selamat dari gangguan lidah dan gangguan anggota badannya. (Al Hadist).

     

    Lihatlah bagaimana Nabi memperlakukan hubungan-hubungan sosial antara Anshar-Muhajirin. Beliau membangun keakraban dan persahabatan antara Ansor dan Muhajirin, antara Qobilah yang satu dengan Qobilah yang lainnya, antara tokoh masyarakat, antara kaya dan yang miskin. Beliau bangun kesepakatan dan dialog dengan masyarakat penganut agama lain. Tidak ada paksaan dalam beragama. Masing-masing harus siap dan sepakat dalam perbedaan (Lakum Dinukum Waliadin). Dan semua penganut agama berkewajiban untuk menjaga keutuhan dan keberadaan Madinah, sebagai tempat tinggal bersama, tempat bergembira bersama, tempat berkeluh kesah bersama, sehingga tumbuhlah solidaritas persaudaraan dan perkawanan yang sama. Sekali lagi, tatanan seperti inilah yang hendak dijamin seorang pemimpin umat.

     

    Inilah missi utama yang sejatinya diperjuangkan para pemimpin kita, para pemimpin yang lahir dan dilahirkan oleh masyarakat, bukan pemimpin yang secara instan menjadi panutan semu di tengah bangunan masyarakat yang semu pula. Pemimpin yang tegas, berani, istiqamah dalam menegakkan keadilan dan kebenaran, hanya akan lahir dari proses yang jujur dan obyektif. Ia lahir mencerdaskan karena dilahirkan oleh aspirasi masyarakat yang cerdas pula. Bukan atas dasar Rusywah persekutuan-persekutuan semu yang hanya akan mendorong lahirnya kebohongan dan penipuan. Nauzubullahi min zalik!

    Hadirin jamaah ied yang berbahagia,

    Terakhir, di penghujung khutbah ini, saya ingin menggarisbawahi beberapa pesan Nabi. Di antara pesan itu sangat penting untuk membangun keharmonisan dan sekaligus keunggulan hidup bermasyarakat. Kepada para pemimpin nanti, saya pesankan untuk merawat pesan Nabi itu secara tulus dan konsisten. Pesan itu antara lain: Tebarkan salam kesantunan; Bangun silaturahmi dan persaudaraan; Wujudkan kepedulian sosial, tolong orang lain yang mendapat kesulitan ekonomi; dan Biasakan shalat malam, pada saat orang-orang sedang tertidur lelap.

     

    Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd.

     

    Akhirnya, untuk memelihara buah ramadhan yang telah berhasil kita petik, sekecil apapun, marilah kita perkokoh kembali kesabaran kita untuk tetap sanggup menahan diri, sesuai dengan missi utama puasa ramadhan. Pada tataran ideal, berpuasa bukan hanya menahan diri dari syahwat yang bersifat fisik, tetapi juga menjaga suasana hati dan bathin dari perilaku rendah, materialistis, dan destruktf.

     

    Marilah kita perkuat harapan ini dengan sejenak menundukkan kepala. Kita bersihkan hati untuk bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan iman dan keperkasaan diri, untuk senantiasa sanggup menjalankan setiap titah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.

     

    Ya Allah yaa Mujibassailin,

     

    Kami sadar kalau kami belum sempurna menjadi hamba-Mu seperti yang Engkau ajarkan

    Tapi kami tetap ingin setiap langkah kami senantiasa mendapat Ridla-Mu

    Kami masih sering gelap menemukan jalan menuju ampunan-Mu

    Padahal betapa banyak kealfaan yang kami lakukan

    Kami malu meminta kepada-Mu di tengah kelalaian dalam menegakkan ajaran-Mu

    Sementara rasa takut akan murka-Mu pun tak pernah berhenti menyelimuti kami

     

    Karena itu kami mohon wahai Tuhan Yang Maha Pemberi,

    Limpahkan kepada kami kecintaan dan ampunan-Mu

    Taburkan pula kepada ibu-bapak kami seluruh rahman dan rahim-Mu

    Agar kami dapat memperbaiki amal dan ibadah kami

    Agar ke depan kami tetap terpelihara bersama hamba-hamba-Mu yang shalih

    Agar tidak ada lagi kegelisahan yang dapat memenjara kehidupan kami

     

    Ya Allah Ya Rabbana,

    Ya Mu’min,

    Dzat Yang Maha Memberi keamanan

    Hiasi kami dengan pengampunan dan kesucian,

    Tutup kami dengan pakaian qanaah dan rasa cukup,

    Bawalah kami dalam keadilan dan keseimbangan

    Karuniakanlah kepada kami rasa aman dari apa yang dapat menakutkan dengan penjagaan-Mu wahai yang Maha Penjaga.

     

    Wahai Dzat yang maha pemelihara,

    Jauhkanlah kami dari rasa iri dan dengki yang dapat memenjara hati kami

    Bebaskan kami dari rasa lapar yang menyiksa kami dan umat kami

    Anugerahkan kepada kami pemimpin yang dapat membimbing kami,

    Pemimpin yang dapat menjadi tauladan bagi kami,

    Pemimpin yang tetap menjunjung tinggi agama-Mu, yaa Allah,

    Bukan pemimpin yang menjauhkan kami dari agama dan petunjuk-Mu.

     

    Ya Rabbana…

    Dalam menempuh perjalanan usia yang kian menepi ini, kami tidak ingin berujung dalam kekufuran ataupun ketakaburan.

    Agar seluruh napas yang kami hembuskan selalu memancarkan pesan tauhidullah,

    Agar setiap langkah yang kami kerjakan selalu memberikan warna tauhidul ummah,

    Agar keseluruhan hidup yang kami jalani ini senantiasa menjadi amal ibadah.

     

    Untuk itu wahai Tuhan Rabbul ‘Izzati,

    Hindarkan kami dari tindakan menyekutukan-Mu dengan cara dan alasan apapun

    Hindarkan kami dari sikap dan perilaku permusuhan di antara sesama kami

    Hindarkan kami dari kebiasaan menyia-nyiakan waktu untuk mengabdi hanya kepada-Mu.

    Hindarkan kami dari sengketa yang selalu mengancam persaudaraan kami

     

    Ya Allah Tuhan Yang Maha Ghafur,

    Janganlah Engkau hukum kami lantaran kami lupa atau kami tersalah.

    Ya Allah janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat, sebagaimana Engkau telah bebankan kepada orang-orang sebelum kami.

    Ya Allah janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak sanggup memikulnya.

    Maafkanlah kami

    Ampunilah kami

    Rahmatilah kami

    Engkau-lah penolong kami,

    Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.

     

    Ya Allah Yang Maha Rahiem,

     

    Jadikan ramadhan dan iedul fitri ini sebagai momentum pengampunan bagi kami

    Pertemukan kembali kami dengan bulan yang penuh maghfirah ini

    Jangan Engkau jadikan ramadhan ini ramadhan yang terakhir bagi kami

    Tapi sekiranya Engkau jadikan ramadhan ini yang terakhir bagi kami

    Maka gantilah dengan sorga-Mu untuk kami.

     

    Ampunilah dosa kami, dosa ibu dan bapak kami

    Taburkanlah benih-benih keimanan pada kami.

    Terimalah rintihan ini wahai Tuhan Yang Maha Mendengar

    Kabulkan segala permintaan kami wahai Tuhan Yang Maha Pemberi

     

    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ, وَعَزَائِـمَ مَغْفِرَتِكَ, وَالْعِصْمَةَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ, وَالْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ, وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ, لَاتَدَعْ لِيْ ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ, وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ, وَلَا كَرْبًا إِلَّا نَفَّسْتَهُ, وَلَا ضَرًّا إِلَّا كَشَفْتَهُ, وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رواه الترمذي وابن ماجه

     

    اَللَّهُمَّ حَبِّبْ اِلَيْنَا اْلإِيْمـــَانَ وَزَيِّنْهُ فِيْ قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ اِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ. اَللَّهُمَّ تَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ, وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِيْنَ, غَيْرَ خَزَايَا وَلَا مَفْتُوْنِيْنَ.

     

    رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. ذكر النواوي

    دَعْوَىهُمْ فِيْهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيْهَا سَلَامٌ, وَأَخِرُ دَعْوَىهُمْ أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. سورة يونس: 10

     

    Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd…

    Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh