Oleh : PROF. DR. H. MIFTAH FARIDL

Jika yang dimaksud dengan muallaf itu adalah orang-orang yang baru memeluk Islam, maka sejujurnya, para shahabat Nabi itu adalah para muallaf. Mereka adalah orang-orang yang baru memeluk Islam. Sebelumnya, mereka adalah para pengikut agama dan kepercayaan lama yang dianut bangsa Quraisy. Seperti diinformasikan al-Qur’an, mereka beribadah sesuai dengan apa yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Mereka menyembah berhala dan sejumlah bentuk ritual lainnya. Bahkan, di antara bentuk-bentuk ritual yang biasa mereka lakukan, sebagiannya dilakukan di sekitar Ka’bah.
Setelah Islam datang, mereka mulai memeluk agama yang dibawah Rasululllah SAW ini. Mereka memeluk Islam secara bertahap. Jalan yang mereka tempuh pun sangat bervariasi. Sebagiannya ada yang memeluk Islam karena memahami substansi ajaran agama yang dibawa Rasulullah ini. Ada juga di antara mereka yang memeluk Islam karena tertarik dengan akhlak dan kepribadian Rasulullah. Tentu, di luar ini semua, mereka berislam karena telah mendapat hidayah dari Allah.

Bacalah sejarah shahabat Umar bin Khattab. Awalnya, Umar adalah satu di antara tokoh Mekkah yang sangat menentang ajaran yang dibawa Rasulullah. Ketika adiknya, Fatimah, diketahui telah memeluk Islam, Umar pun mengancamnya akan dibunuh. Fatimah ketakutan bukan kepalang. Ia terpaksa harus sembunyi-sembunyi ketika melaksanakan ajaran Islam. Dia tidak berani melawan Umar, apalagi terang-terangan mengaku telah memeluk Islam. Perlahan-lahan Fatimah pun menjadi seorang Muslimah yang taat. Dia tidak pernah melewatkan hari-hari yang dilaluinya tanpa membaca al-Qur’an.

Suatu ketika, seorang pemuka Quraisy memberitahu Umar kalau adiknya telah memeluk Islam, dan saat itu Fatimah diketahui sedang membaca al-Qur’an di rumahnya. Spontan Umar marah luar biasa. Dengan muka merah, Umar pun bergegas mendatangi Fatimah. Setibanya di rumah, dalam suasana penuh amarah, pelan-pelan Umar mengintip Fatimah yang tengah membacakan beberapa ayat suci al-Qur’an. Suara itu masuk telinga dan perasaan Umar. Dia memahami seutuhnya kandungan pesan-pesan Allah yang tertuang dalam ayat-ayat yang dibacakan Fatimah. Hidayah Allah pun datang menyapa kesadaran spiritual Umar. Lalu, dengan gejolak perasaan penuh harap, Umar mengajak Fatimah menemui Rasulullah. Diliputi rasa was-was, Fatimah mengantar Umar. Seketika itu pula Umar mengucapkan dua kalimah syahadat.

Ada lagi cara Allah memberi hidayah. Seorang perempuan tawanan perang, sengaja ditempatkan di ruang tahanan dengan jendela penghadap ke jalan di mana Rasulullah setiap hari lewat menuju Masjid. Perempuan itu menyaksikan Rasulullah lewat setiap kali waktu shalat tiba. Paling tidak, lima kali dalam setiap hari. Rasa kagum pun sulit dibendung, merasuk membakar kesadaran spiritual. Betapa mulianya akhlak seorang Muhammad. Diperlakukannya perempuan musuh itu dengan sangat terhormat. Perempuan itu pun luluh, lalu memanggil Rasulullah. Seketika itu pula perempuan itu mengucapkan dua kalimah syahadat.

Di Indonesia, ada ratusan atau bahkan ribuan muallaf dengan pengalamannya yang berbeda-beda. Anton Medan, misalnya, adalah satu di antara ribuan muallaf itu. Dia memeluk Islam setelah belasan tahun menghuni penjara. Dia menemukan hidayah dalam suasana bathin yang penuh gundah. Perlahan-lahan dia datangi orang-orang yang menurutnya dapat membimbing menjadi muslim sejati. Kini dia telah berislam. Dan dalam segala keterbatasan, dia pun kini dikenal sebagai seorang muballigh. Dia sampaikan ayat demi ayat yang sempat dia ketahui. Mungkin di sana sini masih terlihat berbagai kekurangan. Tapi begitulah, jika saatnya tiba Allah pun mengucurkan hidayah-Nya.

Mereka menemukan konsumsi ruhani yang memuaskan. Sangat menyejukkan. Mereka menemukan ruang kehidupan yang tidak pernah sebelumnya ditemukan. Hari-hari baru yang mereka lalui dalam suasan agama yang mereka baru saja cicipi. Kelezatan hidup mulai mereka nikmati. Tanpa banyak kompromi, mereka lawan godaan demi godaan. Mulailah mereka memasuki ruang yang sarat muatan hakikat kehidupan, meski harus mengorbankan kesenangan yang sebelumnya telah lama mereka genggam.

Ada gejolak bathin. Tapi mereka melewatinya dengan tulus. Pergulatan pikiran dan perasaan pun terus membawa mereka ke ruang dialog-dialog yang hampir tidak pernah menemukan titik akhir. Rasa was-was sering menghimpit tekad bulat mereka. Mungkin, di luar yang saya ketahui, ada di antaranya yang terpaksa harus memasuki pintu prustrasi. Tapi faktanya mereka sanggup bertempur melawan hambatan. Demikianlah, pertempuran teologis yang harus mereka lalui. Sangat berat. Dan lebih berat terutama bila dibanding dengan mereka yang sejak lahir telah berislam tanpa perjuangan dan pengorbanan. Mungkin, seperti halnya saya berislam, atau seperti para pembaca berislam.