Prof. Dr. H. Miftah Faridl

 

Tinggal beberapa hari lagi Bulan Dzulhijjah akan segera tiba. Menurut para mufassir, Dzulhijjah merupakan bulan yang oleh al-Qur’an (2: 197) disebut bulan yang dimaklumi (asyhūrun ma’lūmātun). Artinya, pada bulan inilah rukun Islam yang kelima dilaksanakan. Lalu Allah pun melanjutkan firman-Nya: “Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasiq, dan berbantah-bantahan pada saat mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.”

Dzulhijjah adalah bulan kedua belas atau bulan terakhir menurut penanggalan hijriyah. Setelah melewati bulan-bulan yang sejatinya menjadi masa persiapan untuk menjemput undangan Allah, para calon jamaah kemudian memastikan untuk memenuhi undangan itu menunaikan ibadah haji. Mereka mulai berduyun-duyun menghampiri tanah suci, meski harus sejenak meninggalkan sanak keluarga. Sebab bagi umat Islam, berangkat ke tanah suci bukan sekedar cita-cita ataupun mewujudkan sebuah impian, tapi panggilan agama untuk menuntaskan pelaksanaan rukun Islam.

Karena itu, menjelang saat-saat Dzulhijjah tiba, jutaan umat Islam mulai berdatangan ke tanah suci. Mereka datang dari berbagai penjuru bumi. Mereka datang untuk beribadah haji. Dari Indonesia, lebih dari dua ratus ribu jamaah akan ikut bersama jutaan saudara muslim lainnya yang datang dari hampir seluruh negara di dunia. Mereka akan bergabung dalam lautan manusia yang sengaja datang atas undangan-Nya. Mereka adalah tamu-tamu Allah yang akan manapaki jejak-jejak syari’at seperti dicontohkan Nabi dan Rasul-Nya.

Sejak langkah pertama ketika meninggalkan rumah tempat tinggal masing-masing jamaah, bayangan perjuangan Ibrahim, Ismail, dan Hajar tak pernah lari dari mata mereka. Meski rasa haru terus menguntit karena berpisah keluarga, mereka tampak ingin segera melompat bersujud di rumah-Nya, berthawaf dan bersa’i di Masjidil Haram. Di sepanjang perjalanan berziarah menuju tempat-tempat bersejarah itu, tak henti-hentinya mereka bertalbiyah menjemput panggilan-Nya.

Sejak beberapa hari yang lalu, rombongan jamaah haji yang tergabung dalam kelompok terbang pertama sudah mulai berangkat ke tanah suci. Isak tangis keluarga mengiringi keberangkatan mereka. Do’a pun terus mengalir untuk keselamatan agar mereka dapat kembali berkumpul bersama keluarga.

Dari Jawa Barat, kelompok terbang pertama sudah berangkat tanggal 11 Oktober 2010. Mereka berangkat bersama rombongan jamaah haji Indonesia lainnya yang secara berangsur mulai berangkat ke tanah suci. Dengan segala bekal yang mereka telah siapkan sejak lama, para tamu Allah itu mulai meninggalkan tanah air, melepas dengan tulus keluarga yang ditinggal, untuk memenuhi undangan Allah, melaksanakan rukun Islam yang kelima, ibadah haji. Labbaika Allahumma labbaik.

Lalu apa yang harus mereka bawa? Cukupkah hanya dengan menyiapkan fisik yang sehat serta mental yang kuat? Atau cukupkah bekal mereka dengan membawa sejumlah uang, makanan dan pakaian? Haruskah mereka membawa segala kebutuhan hidup selama berhari-hari mereka tinggal di tanah suci?

Bagi orang-orang yang telah membulatkan niatnya untuk melaksanakan ibadah haji, Allah megingatkan untuk menyiapkan bekal. “Berbekallah!”, kata Allah, “dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal” (QS, 2: 197).

Taqwa adalah bekal terbaik yang harus melekat terbawa para jamaah tamu Allah. Bukan berapa besar uang yang harus dibawa, dan bukan pula berapa banyak makanan dan pakaian yang harus disiapkan. Semua itu tidak lebih dari kelengkapan fisik dan material yang sangat artifisial. Tapi kelengkapan fasilitas non-material akan jauh lebih dibutuhkan selama melaksanakan ibadah di tanah suci. Mereka harus membawa bekal taqwa, agar semua rangkaian ibadah sesuai dengan manasik seperti diisyaratkan Allah dan Rasul-Nya dapat dilalui dengan sempurna.

Dengan berbekal taqwa para jamaah akan lega beribadah. Sebab taqwa bukan semata-mata keyakinan dan rasa takut akan ancaman-Nya, tapi ia juga merupakan keseluruhan fasilitas fisik dan psikis, serta kelengkapan material dan spiritual. Bukankah taqwa sendiri merupakan kesempurnaan eksistensi yang meliputi kesatuan antara hati, lisan, dan perbuatan?

Orang-orang yang memiliki taqwa adalah orang-orang yang dijamin Allah memperoleh kemudahan dalam berbagai urusan. Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, maka baginya akan diberikan jalan keluar dari segala bentuk kesulitan (yaj’al lahū mkhrāja) dan akan diberikan rizqi dari pintu-pintu yang tidak pernah diduga sebelumnya (wa yarzuquhu min haitsu lā yahtasib). Dua fasilitas yang disediakan Allah inilah yang akan memperlancar para tamu-Nya dalam melaksanakan perjalanan ibadah di tanah suci.

Jika ibadah haji biasa dikenal sebagai bentuk ibadah fisik-maliyah, maka para jamaah pun harus sanggup mengantisipasi berbagai hal yang berkaitan dengan kedua unsur yang akan melekat dengan pelaksanaan ibadah tersebut. Secara fisik ia harus sehat, karena begitu berat medan yang harus dilalui dalam ibadah haji. Sedangkan secara maliyah, ia juga harus memiliki kecukupan bekal material karena perjalanan haji dilalui bukan hanya beberapa saat seperti halnya ibadah shalat, tapi akan ditempuh selama berhari-hari.

Inilah prinsip istitha’ah seperti diisyaratkan ajaran yang secara substantif memiliki kesejalanan dengan konsep taqwa yang menjadi bekal utama ibadah haji. Berangkatlah dengan bekal taqwa.

“Upacara” selamatan yang telah menjadi tradisi sebagian masyarakat kita pun sudah mereka gelar. Substansinya adalah memohon dukungan moril melalui do’a dan pemberian maaf agar ibadah haji yang akan dilaluinya berlangsung dalam kondisi bersih. Para tamu Allah ini ingin menghadap-Nya di Baitullah dalam keadaan bersih. Sebab Allah tidak akan menerima taubat seseorang atas kesalahan yang pernah diperbuatnya dengan sesamanya sebelum yang bersangkutan memperoleh maaf dari sesama manusia. Jadi, berikan maaf kepada saudara kita yang akan berangkat menunaikan ibadah haji, sekaligus hantarkan mereka dengan do’a.

Selamat jalan saudaraku. Mudah-mudahan Allah memberi kelancaran dalam perjalanan, dan menganugrahkan pahala mabrur ketika ibadah ini usai dilalui.